Lebaran Terasa Suram, Ini 3 Penyebab Seseorang Bersedih di Hari Raya
TABLOIDBINTANG.COM - Sementara kebanyakan orang bersuka cita merayakan Idul Fitri, tidak dipungkiri, ada sebagian orang yang justru merasa tidak bahagia.
Menyambut datangnya Hari Kemenangan dengan perasaan antusias saja tidak. Bagi mereka, lebaran tidak lebih sebagai momen yang menyuramkan. Andai bisa, mereka mungkin berharap Hari Raya tidak ada atau bisa dilewatkan.
Mungkin bagi orang pada umumnya, hal semacam ini cukup sulit dibayangkan dan dipahami. Bayangkan bahwa ada seseorang yang memiliki beban di dada mereka sepanjang hari, padahal orang-orang lain di sekitarnya bergembira ria.
Mereka sendiri benci karena merasa seperti itu. Tidak sedikit yang kemudian merasa bahwa dirinya seperti seorang Muslim yang tidak pandai bersyukur.
Lantas mengapa bisa perasaan sedih di Hari Raya bisa dialami oleh orang-orang ini? Melansir laman IIPH, berikut ini beberapa penyebab timbulnya perasaan suram saat berlebaran.
Salah satu penyebabnya mungkin familier bagi Anda. Semoga dengan mengetahuinya, kita bisa lebih memahami dan berempati terhadap mereka.
1. Menyesali Ramadan yang tidak berjalan seperti yang direncanakan
Setiap Muslim tentu berencana untuk mendapatkan dorongan iman yang kuat dan nyata selama Ramadan. Namun ada orang-orang yang meleset cita-cita dan harapannya karena satu dan lain hal. Dan ini menimbulkan perasaan bersalah hingga kemudian memandang buruk dirinya sendiri dan menjadi tidak antusias terhadap Idul Fitri.
Solusi:
Pertama-tama, Nabi Muhammad SAW melarang umat Muslim untuk berandai-andai atau berkata "jika saja". Artinya, jangan melihat ke belakang dan merasa khawatir. Karena inilah cara setan menguasai umat manusia. Jadi selalu ingat bahwa tidak ada manusia yang dapat mengubah masa lalu. Serahkan saja semua yang sudah dilewati kepada Allah dan teruslah memperbaiki diri. Berdoalah sebanyak-banyaknya untuk meminta ampunan lalu ikhlaskan.
2. Belum lama kehilangan seseorang yang dicintai
Jika sebelum lebaran seseorang baru saja mengalami peristiwa ditinggalkan untuk selama-lamanya oleh orang yang dicintai, maka Hari Raya akan langsung terasa suram. "Jika saja ayah saya masih hidup, dia akan duduk di sini bersama saya", "Andai istri saya masih ada di sini, dia akan memakan makanan kesukaannya ini bersama saya", dan lain-lain.
Solusi:
Jika ini yang dirasakan, ketahuilah bahwa ini adalah berkah dari Allah. Fakta bahwa Anda bisa merasakan kesedihan membuktikan kelembutan hati Anda sebagai seorang manusia. Namun sekali lagi, jangan sampai kita mengenang seseorang yang dicintai dibarengi dengan berandai-andai. Mereka yang telah pergi hanya membutuhkan doa dari Anda yang masih hidup.
Ambil kesempatan untuk memanjatkan doa sedalam-dalamnya dan dengan sungguh-sungguh. Lalu lihatlah dengan mata yang lebih jernih kepada mereka yang masih ada bersama Anda di dunia ini.
3. Kecemasan sosial
Ini adalah penyebab suramnya Hari Raya yang paling sulit diatasi. Karena kecemasan sosial akarnya ada dalam diri orang itu sendiri. Ada orang-orang yang memang rentan mengalami kecemasan sosial. Dan pada perayaan Idul Fitri, mereka benar-benar tidak bisa menghindari pertemuan dengan keluarga dan teman.
Solusi:
Seorang terapis diperlukan untuk benar-benar menghilangkan kecemasan sosial. Tapi Anda juga bisa mengambil beberapa tindakan pencegahan segera. Misalnya, rencanakan hari Anda sehingga tidak perlu bertemu dengan terlalu banyak orang pada waktu yang sama dan di tempat yang sama.
Misalnya, kunjungi orang tua atau saudara dekat pada jam yang tidak populer seperti pada sore hari atau malam atau di hari ke-2 dan berikutnya. Karena inti dari silaturahmi yang terpenting adalah bertemu dan saling memaafkan. Ini tidak apa-apa dan tidak perlu merasa tidak enak hati.